Aspek Spiritual Pasien Pasca Operasi Laparatomi Di Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soedarso Pontianak
Abstract
Latar Belakang: Aspek spiritual walaupun tidak terlihat tetapi akan sangat berpengaruh dalam mempercepat penyembuhan karena akan meningkatkan imun dari pasien serta meningkatkan motivasi pasien untuk mempertahankan kehidupanya dan meningkatkan kualitas hidup dari pasien sendiri. Spiritual akan memberikan kekuatan hidup pada pasien yang dapat mempercepat penyembuhannya. Laparatomi merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengeksplorasi organ abdomen yang dapat menimbulkan penurunan imunitas dari pasien.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui aspek spiritual pasien pada kondisi pasca operasi laparatomi di Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soedarso Pontianak.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Bertempat di RSUD Dr. Soedarso dengan jumlah 4 informan. Analisa yang digunkanan dengan metode Colaizi
Hasil: Peneliti mengalisa hasil indepth interview kegiatan ibadah yaitu tidak melakukan shalat hanya zikir saja, dukungan dalam melakukan ibadah diberikan oleh keluarga terdekat yaitu istri ataupun suami, hambatan dalam melakukan ibadah karena sulit dalam melakukan aktifitas disebabkan nyeri, dan ibadah dapat mempercepat penyembuhan menyebabkan nyeri berkurang dan perasaan nyaman.
Kesimpulan: ada 4 tema besar dari Aspek spiritual pasien pada kondisi paska operasi laparotimi di Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso yaitu kegiatan ibadah yang dilakukan oleh informan adalah zikir, dukungan dalam melakukan ibadah adalah orang yang terdekat seperti suami dan istri, hambatan dalam melakukan ibadah adalah kesulitan dalam melakukan aktifitas karena nyeri pada daerah operasi dan bila melakukan ibadah membuat perasaan nyaman dan nyerinya berkurang.
References
2. Otto. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Budi F, editor. Jakarta: EGC; 2005.
3. Lane. Creativity and Spirituality in Nursing, Implementing Art in Healing. Holist Nurs Pract. 2005;19(3):122–5.
4. Potter, Perry. Buku Ajar fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC; 2005.
5. Lestari P. Metode Terapi dan Rehabiltiasi Korban Napza di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Dimensia. 2012;6(1).
6. Khoury. Living on a Prayer; Religious Affiliation and Trauma Outcomes. Am Surg. 2012;78:66–8.
7. Craig, Wegner, Walton, Robinson. Spirituality, Chronic Illness, an Rural Life. J Holist Nurse. 24(1):27–35.
8. Baldacchino. Spiritual Care : Is it the nurse’s Role? Spiritual Heal. 9(4):270– 84.
9. Meehan. Sprituality an Spritual care a careful Nursing Perspective. J Nurs Manag. 2012;
10. Syamsuhidayat, Jong D. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC; 22003.
11. Sugiyono. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Alfabeta; 2009.
12. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Revisi. Bandung: PT Remaja rosdakarya; 2007.
13. Sanders. Appication fo Colaizzi Method: Interprestasion of an Auditable Decision trail by a novice researcher. Contemp Nurse. 2003;14:292–302.
14. Ghani, Adam. Drugs Abuse and Rehabilitation in Religion in Malaysia. J Hadhari. 2014;6(75–85).
15. Musthofa. Motivasi Zikir. Al-Tahrir. 2013;13(1):171–85.
16. Hawari D. Sejahtera di Usia Senja. Jakarta: FKUI; 2007.
17. C Y, C K. Spiritual, Healt, and Healing: an Integrative approach. 2nd ed. Sudbury: Jones and Bartlet Publishers; 2011.
18. Andrade C, Radhakrishnan R. Prayer and healing: A medical and scientific perspective on randomized controlled trials. Indian J Psychiatry [Internet]. 2009 [cited 2014 Jul 17];51(4):247–53. Available from: http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=2802370&tool=p mcentrez&rendertype=abstract






