Pengaruh Nesting Terhadap Berat Badan Bayi Lahir Rendah Di Ruang Perinatologi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedarso Pontianak
Abstract
Latar belakang: Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus. Provinsi kalimantan barat menempati peringkat tertinggi kedua kejadian BBLR sebesar 15%. Salah satu masalah yang terjadi pada BBLR yaitu tidak stabilnya berat badan yang di akibatkan meningkatnya kehilangan energi. Penyebab kehilangan energi pada BBLR disebabkan sebagian organ tubuh yang imatur, salah satunya sistem skeletal, sehingga posisi bayi cenderung ekstensi dan bayi berada pada tidur aktif. Hal ini menyebabkan akan meningkat terjadinya stres. Nesting merupakan suatu alat untuk menyanggah posisi tidur bayi sehingga dalam posisi fleksi.
Tujuan :Mengidentifikasi pengaruh nesting terhadap berat badan badan bayi berat lahir rendah di ruang Perinatologi Rumah Sakit Umum Daerah dr.Soedarso Pontianak Kalimantan barat
Metode Penelitian: Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment desain pretest-posttest only dengan 15 responden berdasarkan kriteria inklusi neonatus berusia lebih dari 3 hari setelah kelahiran, berat lahir ≤ 2000 gram, neonatus dalam keadaan stabil. Pengukuran berat badan dilakukan dengan menggunakan timbangan digital. Pemasangan nesting dilakukan selama 5 hari. Analisis bivariat menggunakan uji t- dependent.
Hasil Penelitian: Hasil uji statistik menunjukkan rerata berat badan sebelum sebesar 1529,47 gram, dan berat badan sesudah dilakukan nesting sebesar 1552,47 gram. Hasil analisis pada penelitian ini terdapat perbedaan yang signifikan berat badan sebelum dan sesudah dilakukan pemasangan nesting dengan p value=0,002.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian penggunaan nesting dapat direkomendasikan dalam perawatan BBLR sebagai upaya memfasilitasi pertumbuhan BBLR terutama berat badan.
References
2. Alligood,M.R. (2014). Nursing theoriests and their work, eight edition. America :Elseivermosby
3. Aylot, M. (2006).The neonatal energy triangle: Metabolic adaptation. Pediatric Nursing, 18(6), 38-42
4. Badiee,Z.Samsamshariat,S.&Pourmorshed,P (2012). Effect of massage on weight gain in premature infants.Irianian Journal of Neonatology,3(2),57-62
5. Bayuningsih, R (2011). Efektifitaspenggunaan nesting danposisi prone terhadapsaturasioksigendanfrekuensinadipadabayiprematur di rumahsakitumumdaerahkotabekasi, tesis,Depok, Universitas Indonesia
6. Brademeyer, S., Reid, S., Polverino, J., &Wocadlo, C. (2008). Implementation and evaluation of an individualized developmental care program in a neonatal intensive care unit. Journal for Specialist in Pediatric Nursing, 13(4),281-291.
7. Bobak, I.M., Lowdermik, D.L., Jensen, M.D. (2005). Keperawatanmaternitas.(Edisi 4).Jakarta: EGC
8. Catlett, A. N. & Holdicth-Davis, D. (2005). Environmental stimulan of the acutely ill premature infant: physiology effects and nursing implication. Neonatal network, 8(6), 19-25.
9. Cleveland, L.M. (2008). Parenting in the neonatal intesive care unit. JOGN, 37 (6), 666-691
10. Comaru,T& Miura, E. (2009). Postural Support improves distress and pain during diaper change in preterm infants.Journal of Perinatalogy,29, 504-507
11. Coughlin, M, Gibbins, S., &Hoat,S. (2009). Core measures for developmentally supportive care in neonatal intensive care units: Theory, precedence and practice. Journal of Advanced Nursing, 65(10), 2239-2248.
12. DepartemenKesehatanRepublik Indonesia.(2014). Profilkesehatan Indonesia 2013.Tersedia http:www.depkes.go.iddownloadspublikasiprofil%20kesehatan%20indonesia.pdf, 25februari 2016






