HUBUNGAN KONDISI FISIK LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL DAN PERILAKU PENDUDUK DENGAN KEJADIAN TB PARU DI UNIT PENGOBATANPENYAKIT PARU-PARU (UP4) PONTIANAK
Abstract
ABSTRACT
Background:Unhealthy environment can cause Pulmonary Tuberculosis, besides the environment age and behavioral are also risk factors for Pulmonary Tuberculosis incidence.Purpose: To know the relation of physical condition of living environment and behavior of the population with the incidence of pulmonary tuberculosis in Lungs Disease Treatment Unit (UP4) Pontianak.Methods: The method used in this research is correlative analytics, using survey method approach. Sampling was done by using Accidental Sampling technique with 39 samples. Data collection using observation sheet and questionnaire with data analysis using Chi-Square test.Results: Physical condition of neighborhood which do not fulfill requirement can happen pulmonary tuberculosis is about 21 people (53,8%%) and bad behavior can happen pulmonary tuberculosis that is about 20 people (51,3%). Thus, there is a statistically significant relationship between the physical condition of neighborhood and the behavior of the population with the incidence of pulmonary tuberculosis in Lungs Disease Treatment Unit (UP4) Pontianak, obtained the physical condition of the neighborhood p value = 0.030 and the behavior p value = 0.002 (p <0.05). Conclusions: The physical condition of neighborhood and the behavior of the unqualified population led to the occurrence of Pulmonary Tuberculosis.. Therefore, it is expected that everyone does not underestimate this disease, and can minimize environmental factors and behavior that can cause the risk of Pulmonary Tuberculosis.
Keywords: Physical Condition Of Neighborhood, Population Behavior, Pulmonary Tuberculosis.
ABSTRAK
Latar Belakang: Lingkungan yang tidak sehat dapat menyebabkan penyakit TB paru, selain lingkungan umur dan perilaku juga faktor resiko terjadianya TB paru.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kondisi fisik lingkungan tempat tinggal dan perilaku penduduk dengan kejadian TB paru di Unit Pengobatan Penyakit Paru-Paru (UP4) Pontianak.Metode penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelatif, dengan menggunakan pendekatan metode survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Accidental Sampling dengan jumlah sampel 39 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan kuesioner dengan analisis data yang menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Kondisi fisik lingkungan tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat dapat terjadi TB paru yaitu sekitar 21 orang (53,8%) dan perilaku yang tidak baik dapat terjadi TB paru yaitu sekitar 20 orang (51,3%). Jadi secara statistik ada hubungan yang bermakna antara kondisi fisik lingkungan tempat tinggal dan perilaku penduduk dengan kejadian TB paru di Unit Pengobatan Penyakit Paru-Paru (UP4) Pontianak, diperoleh kondisi fisik lingkungan tempat tinggal nilai p = 0,030 dan perilaku nilai p =0,002 (p < 0,05).Kesimpulan: Kondisi fisik lingkungan tempat tinggal dan perilaku penduduk yang tidak memenuhi syarat menyebabkan tejadinya TB paru. Oleh karena itu, diharapkan setiap orang tidak menganggap remeh penyakit ini, serta dapat meminimalisir faktor lingkungan dan perilaku yang dapat menyebabkan resiko terjadinya TB paru.
Kata Kunci: Kondisi fisik lingkungan tempat tinggal, perilaku penduduk, TB paru.
References
[1]Azhar, K., & Perwitasari, D. (2013). Kondisi Fisik Rumah dan Perilaku dengan Prevalensi TB Paru di Propinsi DKI Jakarta, Banten dan Sulawesi Utara. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Media Litbangkes, 23(4), 172-181. Retrieved November 1, 2017: http://oaji.net/articles/2014/209-1394175327.pdf
[2]Agustin, R. A., & Sustini, F. (2017). Hubungan Perilaku Penderita Dengan Kejadian Tuberkulosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Jagir Kecamatan Wonokromo Kota Surabaya. Jurnal Ilmiah Keperawatan, 12(2), 1168-1175. Retrieved November 14, 2018: http://e-journal-stikeshangtuahsurabaya.ac.id/index.php/jik/article/download/57/62
[3]Dotulong, J., Sapulete, M. R., & Kandou, G. D. (2015). Hubungan faktor risiko umur, jenis kelamin dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit TB paru di Desa Wori Kecamatan Wori. Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik, 3(2). Retrieved April 20, 2018: https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/JKKT/article/download/7773/7336
[4]Dinkes. (2016). Dinas Kesehatan Kota Pontianak Tahun 2016.
[5]Dinkes. (2017). Dinas Kesehatan Kota Pontianak Tahun 2017.
[6]Efendi, F., Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori Dan Praktek Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
[7]Fitriani, E. (2013). Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru (Studi Kasus di Puskesmas Ketanggungan Kabupaten Brebes Tahun 2012). Unnes Journal of Public Health, 2(1). Retrieved November 14, 2017: file:///C:/Users/Acer/Downloads/3034-1-5950-1-10-20140310.pdf
[8]Kemenkes. (2015). Tuberculosis, Temukan, Obati sampai Sembuh. Retrieved Desember 12, 2016: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin_tb.pdf
[9]Manalu, H. S. P. (2010). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian TB Paru Dan Upaya Penanggulangannya. Jurnal Ekologi Kesehatan, 9(4 Des). Retrieved Maret 21, 2018: http://ejournal.litbang.depkes.go.id/indexphp/jek/article/download/1598/1040
[10]Nurarif, A.H.,& Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NandaNic-Noc. Jogjakarta : Mediaction.
[11]Nuraini, A. F. (2015). Hubungan Karakteristik Lingkungan Fisik Rumah Dan Perilaku Dengan Kejadian TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 3(1), 482-491. Retrieved November 17, 2017: http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/article/download/11519/11177
[12]Riza, L. L., & Sukendra, D. M. (2017). Hubungan Perilaku Merokok dengan Kejadian Gagal Konversi Pasien Tuberkulosis Paru di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Wilayah Semarang. Public Health Perspective Journal, 2(1). Retrieved April 20, 2018: https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/phpj/article/download/11001/6679
[13]Sayuti, J. (2013). Asap Sebagai Salah Satu Faktor Risiko Kejadian TB Paru BTA Positif-Analisis Spasial Kasus TB Paru di Kabupaten Lombok Timur. In Seminar Nasional Informatika Medis (SNIMed). Retrieved November 18, 2017: http://fit.uii.ac.id/files/snimed/2013/002.pdf
[14]Sianturi, R. (2014). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kekambuhan TB Paru (Studi Kasus Di BKPM Semarang Tahun 2013). Unnes Journal of Public Health, 3(1). Retrieved Maret 21, 2018:https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph/article/download/3157/2922
[15]Sumarmi & Duarsa, S.B.A. (2014). Analisis Hubungan Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian TB Paru BTA Positif di Puskesmas Kotabumi II, Bukit Kemuning dan Ulak Rengas Kab. Lampung Utara Tahun 2012. YARSI Medical Journal, 22(2), 082-101. Retrieved November 14, 2018: http://academicjournal.yarsi.ac.id/index.php/jurnal-fk-yarsi/article/download/305/201
[16]UP4. (2015). Unit Pengobatan Paru-Paru (UP 4) Kota Pontianak.
[17]UP4. (2016). Unit Pengobatan Paru-Paru (UP 4) Kota Pontianak.
[18]WHO. (2016). Who Global Tb Report 2016. Retrieved Oktober 24, 2016:http://www.who.int/tb/global-tb-report-infographic.pdf?ua=1






